4 Mitos dan Fakta Fintech Lending yang Harus Anda Ketahui, Jangan Percaya Hoax!

  • Whatsapp
fakta fintech lending
fakta fintech lending

Bila dulu warga cuma memahami koperasi serta bank selaku layanan pinjam meminjam duit, saat ini bersamaan dengan berkembangnya era serta teknologi membuat warga mempunyai opsi layanan pinjam meminjam baru ialah lewat fintech lending.

Bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), fintech lending ataupun diucap pula fintech peer-to-peer (P2P) lending merupakan salah satu inovasi pada bidang keuangan dengan pemanfaatan teknologi yang membolehkan pemberi pinjaman serta penerima pinjaman melaksanakan transaksi pinjam meminjam tanpa wajib berjumpa langsung.

Read More

Mekanisme transaksi pinjam meminjam lewat fintech lending ini dicoba lewat sistem yang sudah disediakan oleh penyelenggara, baik lewat aplikasi ataupun halaman web.

Di Indonesia sendiri tren P2P fintech lending ini belum lama terus menjadi tumbuh pesat, paling utama sejak terdapatnya pandemi COVID-19 di mana layanan pinjam duit yang kilat serta gampang jadi pemecahan sebagian besar orang supaya bisa penuhi kebutuhan finansial.

Tetapi sayangnya, inovasi teknologi yang sudah memasuki ke zona finansial lewat kedatangan fintech lending ini tidak senantiasa sukses memberikan tanggapan positif di sebagian warga kita. Alasannya, sampai dikala ini masih terdapat beberapa mitos terpaut fintech lending yang tumbuh di warga.

Mitos serta fakta fintech lending

Bersamaan dengan kemunculan perusahaan-perusahaan penyedia layanan fintech lending yang terus menjadi menjamur dikala ini, warnanya memunculkan beberapa mitos serta fakta yang tumbuh di area warga.

Berikut merupakan sebagian mitos serta fakta fintech lending yang dirangkum oleh regu Noise dari sebagian sumber di internet.

1. Siapa juga dapat jadi peminjam

Telah jadi rahasia universal bila mitos yang tersebar di warga menyebut kalau layanan P2P lending ini bisa diakses oleh siapapun tanpa membutuhkan persyaratan.

Bisa jadi asumsi ini terdapat benarnya bila kalian meminjam dana di fintech lending ilegal alias pinjol. Tetapi, di industri fintech lending sah pastinya perihal ini adalah mitos besar.

Baca Juga : Begini Perhitungan & Simulasi Kredit Multiguna! Lengkap Dengan Pengertian Serta Kegunaannya

Kenyataannya, setiap peminjam baik itu perorangan maupun pelaku usaha, wajib melewati serangkaian pilih kelayakan dengan sistem yang berbeda-beda antara satu penyedia layanan fintech lending dengan yang lain.

Serangkaian pilih tersebut bertujuan buat mengenali keahlian usaha tiap peminjam, dan kepribadian serta tipe usaha yang mereka lakukan. Oleh sebab itu, tidak seluruh orang pada kesimpulannya dapat mengajukan pendanaan ke industri fintech lending, spesialnya yang sah.

Tidak hanya itu, tiap penyedia layanan P2P lending pula biasanya mempunyai kriteria ataupun sasaran peminjamnya tiap-tiap. Terdapat yang cuma berfokus menyasar warga desa yang tidak mempunyai rekening serta akses ke bank, ibu-ibu umur produktif, sampai para pelakon usaha di zona pembelajaran.

2. Fintech lending sediakan dana tidak terbatas

Banyak mitos yang tumbuh di warga mengatakan kalau fintech lending sediakan dana yang tidak terbatas buat setelah itu disalurkan kepada para peminjam.

Sementara itu kenyataannya merupakan, dana pinjaman sendiri berasal dari pemberi pinjaman, bukan dari penyedia layanan peer-to-peer (P2P) lending langsung. Sehingga, ketersediaan dana pastinya hendak dipengaruhi oleh ketersediaan pemberi pinjaman.

Dengan kata lain, di mari fintech lending cuma berfungsi selaku penyedia layanan yang jadi penghubung sekalian mengawasi dan mengurus perjanjian kedua belah pihak (pemberi pinjaman serta peminjam).

3. Pinjaman online berarti bodong

Maraknya kasus-kasus penggerebekan pinjol online yang terjalin belum lama ini, secara tidak langsung membuat citra para penyedia layanan fintech lending sah jadi turut tercemar.

Apalagi, tidak sedikit mitos yang mengatakan kalau aplikasi meminjamkan dana lewat platform P2P lending merupakan pengembangan dana bodong.

Baca Juga : Berikut Ini Pengertian Finansial Beserta Fungsi dan Manfaatnya, Dibahas Lengkap & Mendetail!

Sementara itu, pada dasarnya secara teknis P2P lending telah mempunyai regulasi yang jelas serta hukum yang kokoh sebab telah diatur dalam sebagian Peraturan BI serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Walaupun begitu, kalian pula butuh membenarkan kembali apakah penyedia layanan fintech lending tersebut betul-betul terpercaya serta sah. Salah satu perihal yang bisa jadi parameternya merupakan, fintech lending tersebut telah terdaftar serta diawasi oleh OJK.

4. Proses kilat serta tidak transparan?

Menawarkan proses yang kilat memanglah jadi keunggulan dari fintech lending sebab sudah menggunakan kecanggihan teknologi. Sehingga, biasanya proses verifikasi terhadap peminjam serta pemberi pinjaman bisa dicoba dalam hitungan hari ataupun apalagi menit.

Sayangnya, kelebihan tersebut malah merangsang mitos di area warga yang menyebut kalau sebab prosesnya sangat kilat, hingga mempunyai resiko beresiko serta prosesnya jadi tidak transparan.

Sementara itu dengan menggunakan inovasi serta teknologi tersebut, bukan cuma membolehkan prosesnya jadi lebih kilat saja, tetapi pula lebih transparan.

Alasannya, pemberi dana ataupun peminjam dapat mengenali asal dana yang didapat serta kemana dana mereka disalurkan secara rinci lewat dasbor tiap-tiap pemberi pinjaman serta bisa diakses online.

Related posts